Ya, tepat dua hari setelah aku mendengar kalimat terpahit itu. Belum ada kontak sedikitpun antara aku dan dia. Aku merasa, ya, aku harus menjauh, itu yang aku pahami dari kata-kata pahit itu, entah benar atau salah, toh tidak ada yang memutuskan itu benar atau salah. Mungkin kehadiranku dalam hidupnya telah mengganggu dan cukup membuat beban pikiran dia bertambah. (apa aku jadi beban?). dia bilang kalau aku tidak punya salah dan tidak ada yang perlu disalahkan, ini hanya keputusan dia. Itu yang membuat aku semakin……. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang.
Dilema.
Antara senang dan sedih, antara rela dan tidak ikhlas, antara sayang dan benci, antara bodoh dan setia.
Karena mungkin semua itu takdir, seperti yang dibilang aa gym dikhutbah jum’at tadi siang.
Melihat foto-foto dilaptop, semakin aku tidak mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang, perasaan yang pastinya sama sekali tidak ingin aku rasakan.
Rasa senang, karena aku ingin melihat dia bebas senang tanpa beban pikiran dengan memutuskanku. (rasanya aku memang beban berat buat dia).
Rasa sedih, mungkin hanya aku yang dapat merasakan hal seeksklusif ini, sakitnya beda.
Rela, apapun demi kebaikan dia, apapun keputusan yang menurut dia dapat membuat dia merasa lebih baik, aku rela.
Tidak ikhlas, aku seperti kehilangan setengah kekuatanku. I’ve choose that love is power, and I’ve lost it. “Take a breath and let it go”, that is NOT an easy speak and do sentence.
Sayang, aku tidak pernah bisa tidak sayang, hanya untuk dia. Sepertinya itu tidak usah diragukan lagi. Aku telah mempertahankannya cukup lama. Benih kecil telah tumbuh jadi pohon.
Benci, siapa yang tidak benci melihat diriku sendiri seperti tergantung jerat cinta.
Bodoh, aku selalu mengatakan itu didepan cermin, dan ketika mengingat seberapa ekstrim perjuanganku untuk meraih hatinya.
Setia, selalu dikaitkan dengan zodiak Taurus, tapi aku menolaknya. Bukan zodiak yang menentukan, tapi hatiku telah membuat pilihan.
EN
15 Oktober 2010
0 comments:
Post a Comment