Aku sudah tidak tahan lagi dengan suasana kehidupanku sekarang ini.
Aku sudah tidak peduli dengan kata galau, labil, atau semacamnya.
Entah kepada siapa aku harus berbagi, dan entah siapa pula yang mempedulikanku.
Orang pikir malam adalah waktu melepas segala penat yang ada. Dan aku sepertinya tidak bisa melakukan itu.
Bukan tidak bisa karena tidak mau, tapi memang tidak bisa.
I feel the loneliness. Tidak ada orang yang peduli, ataupun memperhatikanku. Seolah hidupku memang aku sendiri, dan memang begitu nyatanya.
Mungkin jika ada yang membaca ini dan merasa kasihan, pasti langsung berkomentar, kamu gak sendiri, orang tua kamu masih peduli dan memperhatikanmu. Iya, kamu jangan bilang gitu, kan masih ada kita.
Ya, dengan mudahnya orang yang merasa iba itu berkata seperti itu, tanpa melihat realitas sebelum ia membaca dan berkomentar seperti itu.
Sekarang ini aku ingin –kepada siapapun—entah ngobrol, entah bilang eueueueu dengan panjang, entah apapunlah itu. Aku hanya tidak ingin merasa sendirian.
Dengan bodohnya, putus asa tepatnya, aku ingin mencari perhatian.
Mencari perhatian dengan tingkah laku nakal, hah. Sudahlah. Aku sudah tidak se-muda itu.
Bodohnya aku mulai menghubungi orang-orang dengan tidak jelas, dan mereka tidak peduli.
Aku mulai berbicara dengan teman, kemudian merasa ketidakdekatan dan ketidaknyamanan. Aku tahu itu karena memang mungkin aku tidak enak diajak bicara.
Makanya ubah dulu sikap kamu ke orang-orang… ya, dengan mudahnya lagi bila orang iba dan kasihan ataupun sinis tersebut berkata seperti itu, tanpa mengerti apa itu kata UBAH.
Please God. Show me Your great way. I hate to feel this. Aku tahu aku akan sendiri, bukan mati, dan Engkau pun tahu itu, sepertinya aku sudah siap dan aku sudah merencanakannya dari sekarang, ya, hanya Engkau dan aku yang tahu sesuatu itu. Setidaknya berikan aku bahagia kebersamaan sebelum kesendirian itu tiba.
Aku ingin seperti orang-orang, dimana ketika mereka tertawa ada orang-orang yang tertawa bersama mereka. Dimana ketika mereka murung dan sedih ada orang-orang yang akan bertanya kenapa. Dimana ketika mereka merasakan kesendirian ada orang-orang yang hadir bersamanya. Dimana ketika mereka lapar ada orang-orang yang bahkan tanpa diajak mau menemani makan sambil berbincang. Dimana ketika mereka melangkah ada orang-orang yang mendampingi langkah mereka. Dimana ketika mereka bersuara ada orang-orang yang mau mendengar. Dimana ketika mereka merasa bimbang ada orang-orang yang merangkul dan berkata tenang. Dan bahkan dimana ketika mereka diam tidak ada orang-orang yang meninggalkannya.
23 November 2010, 10:28 PM

