24 November 2010

Labilisme

Aku sudah tidak tahan lagi dengan suasana kehidupanku sekarang ini.
Aku sudah tidak peduli dengan kata galau, labil, atau semacamnya.
Entah kepada siapa aku harus berbagi, dan entah siapa pula yang mempedulikanku.
Orang pikir malam adalah waktu melepas segala penat yang ada. Dan aku sepertinya tidak bisa melakukan itu.
Bukan tidak bisa karena tidak mau, tapi memang tidak bisa.
I feel the loneliness. Tidak ada orang yang peduli, ataupun memperhatikanku. Seolah hidupku memang aku sendiri, dan memang begitu nyatanya.
Mungkin jika ada yang membaca ini dan merasa kasihan, pasti langsung berkomentar, kamu gak sendiri, orang tua kamu masih peduli dan memperhatikanmu. Iya, kamu jangan bilang gitu, kan masih ada kita.
Ya, dengan mudahnya orang yang merasa iba itu berkata seperti itu, tanpa melihat realitas sebelum ia membaca dan berkomentar seperti itu.
Sekarang ini aku ingin –kepada siapapun—entah ngobrol, entah bilang eueueueu dengan panjang, entah apapunlah itu. Aku hanya tidak ingin merasa sendirian.
Dengan bodohnya, putus asa tepatnya, aku ingin mencari perhatian.
Mencari perhatian dengan tingkah laku nakal, hah. Sudahlah. Aku sudah tidak se-muda itu.
Bodohnya aku mulai menghubungi orang-orang dengan tidak jelas, dan mereka tidak peduli.
Aku mulai berbicara dengan teman, kemudian merasa ketidakdekatan dan ketidaknyamanan. Aku tahu itu karena memang mungkin aku tidak enak diajak bicara.
Makanya ubah dulu sikap kamu ke orang-orang… ya, dengan mudahnya lagi bila orang iba dan kasihan ataupun sinis tersebut berkata seperti itu, tanpa mengerti apa itu kata UBAH.
Please God. Show me Your great way. I hate to feel this. Aku tahu aku akan sendiri, bukan mati, dan Engkau pun tahu itu, sepertinya aku sudah siap dan aku sudah merencanakannya dari sekarang, ya, hanya Engkau dan aku yang tahu sesuatu itu. Setidaknya berikan aku bahagia kebersamaan sebelum kesendirian itu tiba.
Aku ingin seperti orang-orang, dimana ketika mereka tertawa ada orang-orang yang tertawa bersama mereka. Dimana ketika mereka murung dan sedih ada orang-orang yang akan bertanya kenapa. Dimana ketika mereka merasakan kesendirian ada orang-orang yang hadir bersamanya. Dimana ketika mereka lapar ada orang-orang yang bahkan tanpa diajak mau menemani makan sambil berbincang. Dimana ketika mereka melangkah ada orang-orang yang mendampingi langkah mereka. Dimana ketika mereka bersuara ada orang-orang yang mau mendengar. Dimana ketika mereka merasa bimbang ada orang-orang yang merangkul dan berkata tenang. Dan bahkan dimana ketika mereka diam tidak ada orang-orang yang meninggalkannya.

23 November 2010, 10:28 PM

21 November 2010

Setan

Kapan semua penderitaan ini akan terasa menjadi biasa..? aku hanya berharap apapun yang dibilang Tuhan itu yang bisa enak dan bisa membuat aku tenang nerimanya.
Sial sekali. Mentang-mentang pada putus diwaktu yang hampir bersamaan, temen-temen pada liar semua.. hahaha. Mereka pada berlomba cari yang baru, termasuk mulai mendorongku kedalam lubang kesialan. Wkwkwk
Ya, mereka tahu tentang aku dan kamu, tentang rasaku kepadamu. Dan dengan ini mungkin mereka tidak ingin aku terus menerus manyun dikelas gara-gara mikirin orang yang sudah………………….
An extraordinary girl, just like an angel, secara tepat “datang” ketika kondisiku seperti ini. Aku tahu dia hanya ingin berteman dan memperhatikan temannya. Dia memang seolah-olah memberi perhatian, tapi aku tahu, itu bukan “perhatian”, hanya “basa basi” teman, tidak lebih.
Hanya saja mereka beranggap lain. Bahkan temanku yang terbaik yang dulu jelas-jelas mengincar orang itu, malah sekarang dia yang paling semangat membujukku untuk mendekati dia.
Halah. Berkali-kali aku tidak ingin memikirkan itu, dan berkali-kali pula aku dibuat pusing karena itu. Kalo ada orang bilang “jangan diambil pusing”, ya aku memang tidak mengambil si pusing itu kok.
Lagian kalopun aku memang terbujuk oleh rayuan si setan-setan itu, mungkin aku akan berfikir berkali-kali. mana mau dia ama orang kayak lw win.. wkwkwk. Udah.. jangan terlalu ngarep jauh dah.. Kalo di iklan djarum cokl*t, ada jin keluar, terus si jin bilang ‘sebutkan permintaanmu’, dan gw bilang ‘pengen jadi pacarnya si e’, pasti si jin berkomentar sama kayak diiklan dan bilang, ‘huahahahaha,,, ngimpi…!!!!’
Imajinasi liar sudah semakin meracuni.. gyahahahaha..
(maybe, it’s like a “commercial break” from that “damn Yeah!!” friend in my life. haha),
Aku sama sekali tidak berminat untuk memikirkan hal itu sekarang. Yang sangat menjadi  topik utama pembahasan sel-sel diotakku saat ini hanyalah tentang kondisi ini, kita, aku, kamu.
Mungkin lebih baik hati ini ‘meledak’ memendam rasa itu, tidak mengungkapkannya, dan aku sama sekali tidak ingin mengungkapkan bahwa aku cinta kamu pada waktu dulu itu, jika ternyata hasilnya seperti  sekarang ini. We’re so far away now.
Yang aku takutkan ketika bersamamu, ketika ternyata aku memang harus benar-benar merasa kehilangan.
Sepertinya keputusan untuk mengungkapkan dulu itu adalah salah satu keputusan salahku, kalau memang jadinya seperti sekarang ini.
Lebih baik dulu tergantung tapi sampai sekarang bisa ada kamu “dekat”. Dari pada lepas gantungan sebentar tapi kemudian sekarang ada kamu “jauh”.

15 November 2010

Pecundang tingkat Dewa

i can't express how my life now anymore.
just a wild imagination which live in my head.
"damn Yeah!!!", i said it again, since i never said it again several month ago.
a real fighter can beat something.
but i just stand up and move on with my empty soul.

9 November 2010

Komunikasi yang terjadi semakin jarang. Timbul rasa takut ku akan benar-benar kehilangan dia.
Aku tahu dia memang menjauh. Tapi tetap, rasa takut ku tak terabaikan.
Ya, aku coba kembali menghubungi dia, tak usah berlebih, cukup pesan singkat saja, aku ingin tahu bagaimana respon dia.
Hmm.. malam kemudian, aku masih menatap layar handphone yang dari dulu sama sekali tidak berubah itu. As usual, aku membatalkan niatku untuk bicara dengannya. Aku khawatir itu mengganggu dia, konsentrasi, emosinya.
Aku tahu, aku hanya orang yang tidak tahu diri.

Kau sering berkata, menelfon atau sms, itu hak mu. Tapi yang aku pikirkan, aku tidak mau egois dengan hak ku, diatas perasaan, emosi, dan kepentinganmu. (that’s the “dizzy maker” in my head)

see also: my feeling

7 November 2010

ketika sebuah khayalan menjadi begitu indah.
sedetik kemudian ku sadar, dalam nyata tak begitu.

see also: Tulisan

5 November 2010

"Semakin lisan berbohong, semakin bahasa tubuh menunjukan kejujuran"
I Like this sentence, thank for Dr. Ilfiandra.


jadi kepikiran terus, Like This lah... Sundanese Pisan.. XD

3 November 2010

hmm... i think, i've found an interesting thing.

2 November 2010

Andai bisa hidup sesantai ini....

1 November 2010

29 Oktober 2010
Si Teman yang nulis kalimat dibuku itu beberapa hari lalu bilang, “kalo kamu emang masih sayang sama dia, minta balikan aja, jangan sampe kamu menyesali sesuatu nantinya.”
Hmm.. Aku tidak tahu bagaimana perasaan dia sekarang. Mungkin saja dia tidak memikirkannya.
Berulangkali berfikir, sepertinya aku memang layak mendapatkan hal seperti ini darinya. dalam hati memaki diri sendiri, “emang kamu se-spesial apa ingin bersama dia, selama jadi pacar aja ga ada gunanya, motor ga punya jadi ga bisa nganter dia kalo lagi perlu atau jalan-jalan kemana-mana, duit pas-pasan jadi ga bisa traktir makan atau sekedar main dan nonton, muka ga bisa dibilang bagus jadi pantas untuk minder sepertinya, ngomong belepotan, ga bisa diandalkan.”
Teman yang tinggal dicilengkrang sering bilang, “hubungan kalian emang tidak jauh terpisah kota pulau ataupun negara, tapi dengan kondisi kalian, tidak bedanya hubungan kalian dengan LDR”
Ya, kalimat itu sering aku pikirkan. Mengandai-andai, kalau saja saya kuliah di ITB atau UNPAS yang deket terus punya kendaraan, muka bagusan dikit, ga gagap ngomong, bisa diandalkan, sepertinya kondisinya tidak akan seperti yang sekarang.
Tapi apa karena hal itu semua harus berakhir. Walau tidak semuanya, Itu hanya jalan Tuhan sesuatu yang bisa aku ubah. And I know, I can change that DAMN thing.
Memang benar, kuliah itu memang prioritas utama, dan aku tidak mau mengganggu yang satu itu.
Dengan tidak terikatnya aku dan dia, mungkin bisa saja suatu saat dia punya seseorang lain yang bisa diandalkan, mungkin dia jatuh cinta dengan orang lain.
I don’t know, and i never want to imagine that.
Yang jadi pertanyaan, apa kamu masih mau menerimaku lagi..? sekarang, nanti, atau tidak sama sekali?