1 November 2010

29 Oktober 2010
Si Teman yang nulis kalimat dibuku itu beberapa hari lalu bilang, “kalo kamu emang masih sayang sama dia, minta balikan aja, jangan sampe kamu menyesali sesuatu nantinya.”
Hmm.. Aku tidak tahu bagaimana perasaan dia sekarang. Mungkin saja dia tidak memikirkannya.
Berulangkali berfikir, sepertinya aku memang layak mendapatkan hal seperti ini darinya. dalam hati memaki diri sendiri, “emang kamu se-spesial apa ingin bersama dia, selama jadi pacar aja ga ada gunanya, motor ga punya jadi ga bisa nganter dia kalo lagi perlu atau jalan-jalan kemana-mana, duit pas-pasan jadi ga bisa traktir makan atau sekedar main dan nonton, muka ga bisa dibilang bagus jadi pantas untuk minder sepertinya, ngomong belepotan, ga bisa diandalkan.”
Teman yang tinggal dicilengkrang sering bilang, “hubungan kalian emang tidak jauh terpisah kota pulau ataupun negara, tapi dengan kondisi kalian, tidak bedanya hubungan kalian dengan LDR”
Ya, kalimat itu sering aku pikirkan. Mengandai-andai, kalau saja saya kuliah di ITB atau UNPAS yang deket terus punya kendaraan, muka bagusan dikit, ga gagap ngomong, bisa diandalkan, sepertinya kondisinya tidak akan seperti yang sekarang.
Tapi apa karena hal itu semua harus berakhir. Walau tidak semuanya, Itu hanya jalan Tuhan sesuatu yang bisa aku ubah. And I know, I can change that DAMN thing.
Memang benar, kuliah itu memang prioritas utama, dan aku tidak mau mengganggu yang satu itu.
Dengan tidak terikatnya aku dan dia, mungkin bisa saja suatu saat dia punya seseorang lain yang bisa diandalkan, mungkin dia jatuh cinta dengan orang lain.
I don’t know, and i never want to imagine that.
Yang jadi pertanyaan, apa kamu masih mau menerimaku lagi..? sekarang, nanti, atau tidak sama sekali?

0 comments:

Post a Comment